Countdowns
12 days to unemployment (being broke isn't something I look forward to, but the longer sleeping hours and, hopefully, enough time to work on my final project writing might compensate for that); 15 days to Aiko's wedding, 23 days to Dad's; 23 days to thanksgiving (and I'm writing this in the sweet memory of last year's thanksgiving dinner which I'm sure will not repeat itself this year); 53 days away from Christmas (a season this city barely celebrates); 60 days away from 2013.
I was hoping to land myself on a comfortable cushion of inner peace and mental clarity by the first day of next year but as far as my eyes can see (through the blur that is my lenses), this thing might need a bit more time making.
This Is a (/an Academic) Low
"Belle, are you ok? You're looking rather pensive." - said the boss (and yes, some call me 'Belle')
(not) a writer's block
Times are good when you don't think too much, you see.
Effortless efforts. I seem to have lost that drive.
*grunt*
01/01/11
"Finally, chris!" and we high-fived--overwhelmed and ecstatic.

I was there, the first day of the new year.
Many came. Everyone knew you, everyone wanted to let people know they knew you, knew you good, knew you best. Those who didn't know you that well searched their brain for any recollection of a moment of their life that included you in the picture; some could only vaguely remember. Some might have only heard of you from a friend, whether or not that friend knew you, might be a good question. Those who didn't know you, wished they had.
Till we high-five again!
Puddle Splash
Inhale, exhale, and walk. Head held high.
Tentang Kecewa
Mau coba curhat pakai bahasa Indonesia (yang semoga baik dan semoga benar). Coba pakai saya lagi, karena sudah gede. Memang tidak ada hubungannya.
Kecewa. Rasanya lama gak ketemu dia. Atau belum pernah sama sekali? Bisa jadi. Dari semua hal-hal yang seharusnya mengecewakan dan menyedihkan, rasanya saya belum pernah benar-benar berjumpa dengan si Kecewa ini. Masalah keluarga yang dikira banyak orang menyakiti saya bak dikeroyok massa nyatanya tidak berbekas satu goresan pun. Masalah percintaan yang menyangkut hal-hal yang paling ditakuti orang dalam sebuah hubungan pun berlalu tanpa rasa sakit yang berarti.
Sedih, itu namanya. Sama yang satu itu saya memang sudah berkali-kali berjumpa, berinteraksi, gendong-gendongan, dan lain sebagainya. Kami akrab. Entah memang sial atau itu jalan saya menuju hidup yang utuh. Mungkin sudah terlalu biasa, sampai-sampai mati rasa. Tapi sama si Kecewa, saya anak baru. Masih kaku dan malu-malu. Mau diajak bercanda, takut dia marah.
Kecewa rasanya lucu. Kenapa? Karena saya selalu merasa kedatangannya adalah atas ide brilian saya sendiri. Saya, bermodalkan otak yang lambat (gak ada hubungannya) menipu diri sendiri untuk berpegang pada sesuatu yang kosong. Tanpa diperintah, membangun harapan, lalu sesak napas ketika angin meniupnya pelan tapi pasti. Kepercayaan yang seakan saya obral karena tidak suka lama-lama bermain digenangan masalah, yang kemudian berbalik melukai. Semakin banyak kepercayaan yang terjual, semakin rapuh. Saya dan otak saya menari.
Kecewa itu pahit. Tingkatan terpahit dari semua perasaan negatif yang ada. Menyadari prinsip yang salah, menyadari realita yang 180 derajat berbeda dari apa yang selama ini kita percayai, menyadari perilaku manis yang terbukti hanya kamuflase, menyadari kebodohan diri sendiri, menyadaritidak ada yang bisa kita percaya, menyadari bahwa dalam apa pun dan dimana pun, kita sendiri. Tidak ada orang lain yang patut menerima kepercayaan seutuhnya. Dihantam oleh sesuatu yang tidak kita lihat. Entah apa atau siapa yang membutakan. Mungkin cinta. Mungkin juga bukan. Lagi-lagi, semua berasal dari diri sendiri.
Kecewa mengesankan. Jiwa kreatif yang selama ini saya kira absen rupanya tidak pernah kemana-mana. Apa lagi yang membantu saya mengarang cerita, pemikiran, dan prinsip yang sukses melahirkan hal-hal di atas kalau bukan jiwa kreatif yang berkolaborasi dengan logika-kurang-riset? Hihihi, menyenangkan sekali. Mungkin saya diam-diam mempunyai bakat jadi ilusionis seperti yang baru-baru ini meramal hasil World Cup. Bagaimana tidak, saya akui suka sok meramal dan memperkirakan sendiri hal-hal yang sebenarnya tidak bisa diperkirakan ataupun diramal. Mengintip ramalan zodiac pun tidak. Mengesankan, bukan? :D
Ah, kecewa. Pertemuan pertama yang begitu mengesankan. Si Sedih boleh cemburu, karena saya tidak pernah begitu menghayatinya. Tidak pernah menghabiskan jam-jam selepas tengah malam untuk membuat tulisan khusus tentangnya seperti ini. Mungkin lain kali.
Pretty shoes are for sunny days
And I thought I would lose weight.
The bed is the ultimate friend
The bed accepts. Respects. Listens.
Any time.
Any day.
If I could only marry a bed.
A lousy advice you might (not) want to take
08170841334....
The dial tone frustrated her innermost. Dial tones always do. That friendly voice was essential to her sanity and she needed it as soon as it was possible. It was always friendly and happy, it always tries to, anyway. And what other voice does one need to hear?
More dial tones...
And finally, the voice.
"Hey"
"Hey"
"I love you."
Oh God. She had dialed the wrong number. Or so she thought. She went through her phonebook, just in case. It's not like she did not have it memorized, all these years. She went through it anyway, but his number she did not find. She memorized all emergency numbers.
But those words, she did not need. Not tonight.
Tears down her cheeks. Emotions raging, heart pounding, brains on the edge of a nasty burst. Alone she stayed.
Never ever date your best friend. Never. Ever. Ever.
Aliens, are we not?
Oh. It’s just one of those times.


